Minggu, 19 Juli 2020

GLIOBLASTOMA oleh:Lisa Rahmawati Sufyan

                Kejadian ini bermula  saat  di desa, salah satu warga datang ke rumah Omku dengan wajah yang gelisah, ia meminta untuk berhati-hati sebab ada seseorang berlari di kebun pisang menuju perkebunan dengan pakaian serba hitam, wajahnya tentu tak dapat diketahui sebab kain masker hitam menjadikannya seperti ninja. Warga ini mengikuti orang tersebut karna dirasa  mencurigakan. Sampai ditengah jalan ia tak bisa lagi mengikuti jejaknya karna gelap malam berpadu dengan warna hitam pakaian target yang dikejar tak dapat dilihat. Dengan sigap ia cepat membalikkan badan dan berlari meminta warga lain untuk berhati-hati dan waspada. Setelah cukup pembahasannya Ia pamit pergi keliling desa untuk mengabarkan tetangga yang lain agar berhati-hati. Dan ternyata ucapannya benar sesaat kepulangannya, disamping Rumah Om ada suara gertakan kaki yang cukup hati-hati. Gesekan antara kaki dengan daun kering pohon pisang yang berserakan tercipta suatu suara. Mata kami saling berpandangan satu sama lain, mencoba menjawab apa yang didengar dengan keyakinan tebakan dalam hati. Jawaban tak dapat diutarakan hanya tanda Bulek menyuruh kami diam sejenak.
             Namun kehadiran suara mulut Nenek melontar bertanya, “ siapa itu?” tanyanya dengan suara tegas dan nyaring.
“bisa saja Kucing, yakan? Jangan su’udhon dulu belum tentu maling. Berdo’a saja” ucap Om langsung menenangkan keadaan.
“Tapi Om, setiap makhluk termasuk manusia dibekali insting untuk bertahan dari ancaman dan bahaya” ujarku dengan yakin, artikel pendek yang kubaca 3 hari yang lalu masih melekat diingatan membuatku bisa menjawab kalimatnya.
“ ada satu cara untuk mengetahui siapa dibalik suara itu” jawabnya melirik ke samping rumah dengan tatapan misterius dan hatiku mulai berdegub kencang ketika Omku berdiri dan pergi ke Dapur  mengambil kayu jati yang lumayan sebesar tangannya. 
         Ia mendekat dengan tidak membawa cahaya apapun untuk jadi penerangannya menyerudup. Berbekal nyali dan rasa penasaran akupun mengikuti Omku dibelakang. Ia berjalan sangat pelan agar kehadirannya tak diketahui. Bulek hanya melihat kami saja, tetap berjaga diluar rumah seperti menunggu kembalinya kami. Mendekatkan jari telunjuk kearah bibirnya untuk memberi sinyal agar mulutku tetap terkunci selama penyerudupan. Kini kami seperti menyamar sebagai polisi yang siap 86 dalam kasus penangkapan.  ditangan kusiapkan handphone untuk merekam kejadian dari asal suara yang sebenarnya hingga membuat kami tidak bisa tertidur. Fungsi Handphone ini juga agar bisa memberikan cahaya nantinya jika benar terbukti ada seseorang yang mencurigakan sesuai dugaanku. Jika itu benar maka aku siap meneriakkinya sampai ke ujung desa sana agar orang tau ada manusia yang ingin berniat jahat dan seluruh warga desa akan berbondong-bondong mencari asal teriakan itu. Tapi semoga saja tidak. Sebab siapa yang mau rumahnya kedatangan maling. Orang banyak uangpun sepertinya juga tidak ingin kejadian merugikan terjadi padanya. Lama setelah itu penyerudupan masih ketat dilakukan, kaki kami terasa sangat ingin bergerak kearah tengah petak kebun. Menyerusuri jalan kecil. Aku masih di belakangnya.
“kita pencar aja ya, kamu kearah sana” perintah Om dengan bisikan lembut.
 

         Aku tak menjawab hanya memberi isyarat anggukan kepala menyetujui perintahnya. Berbelok arah ke kanan sisi kebun tanpa penerangan apapun. Nyaliku cukup kuat, bukan karna takut ada makhluk halus karna gelapnya malam. Namun jika sesuatu hewan bernama ular berbisa atau sejenisnya siap menggigit tentu aku tak dapat melakukan hal banyak langsung roboh dan kesakitan. Untung apabila masih bisa mengeluarakan teriakan jika tidak orang rumah akan kewalahan mencariku di sepanjang kebun. 
Teriakan yang aku pikirkan tidak terjadi padaku, kencang suaranya sangat nyaring didengar seperti karna diiris tipis kulitnya. Sebab timbul keributan dengan perlawanan  yang tidak seimbang. Kepekaanku mengarah di sisi kiri kebun yang menjadi teriakan menakutkan bagiku di malam itu. Suara itu aku sangat mengenalinya, bahkan setiap hari aku mendengarnya. Hingga pada akhirnya akupun ikut berteriak meminta tolong, pertolongan warga sangat aku butuhkan. Aku berteriak sebisa yang aku bisa,  tentunya tak bisa menerima semua ini. Seseorang dari kerabat keluargaku ditindas di depan mataku kini. Dengan balas hati kulemparkan batu berukuran besar ke arah kepalanya. pukulan itu bereaksi dan terasa menggoyangkan kepala. Kurang puas rasanya kejadian itu aku lakukan berkali-kali sampai ia pingsan tak sadarkan diri. Tak lama kemudian ia terasa kejang-kejang. Aku mulai panik, tiba-tiba bulek dengan warga mulai berhamburan menuju kearahku, ia mengangkat Om sudah tak berdaya, aku menahan tangis berdo’a agar ia cepat sadar dan sisanya urusan warga bagi pelaku. 
Tanganku cukup geram ingin melakukan lagi kepada orang yang telah mencelakai Omku itu, niatnya sangat buruk. Dan karna panik  aku dapat mengenali siapa dia. Bajingan kadal yang sudah menyakiti Omku, Aku yakin kepalanya sudah penuh darah karna pukulan dari batu yang kulempar. Maling rupanya, dugaanku tidak pernah salah untung warga sigap membantu tadi. Jika tidak, aku akan kewalahan membawanya. Kejadian sangat mengerikan yang aku alami di desa begitu menakutkan sebab keadaan sangat malam dan tidak ada penerangan. Sekiranya begini, jangan hanya mengandalkan keberanian perasaan. Terkadang seseorang terburu-buru melakukan tindakan hanya karna memenuhi rasa penasaran tanpa harus berpikir panjang apa yang dilakukan itu. Resiko yang diambil sangat tinggi. Kejadian menggemparkan itu terjadi  saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

          Petir mendobrak langit malam memaksa berteriak, sesuatu menarik selimut dengan sangat terjaga, pelan rasanya namun pasti sampai ke kaki. Sentuhan tangan yang basah mulai terasa mengelus kaki lembut. Gerimis masih ramai di luar sana. Selimut tebal menjadi pembungkus seluruh tubuh dingin. Kaku dalam tangis kini, aku tak bisa berbuat banyak saat ia sudah berada di depanku. Tak bisa aku fikirkan mengapa aku sekejam itu kepadanya yang pasti saat batu mengenai kepalanya, aku sangat merasakan emosi yang tidak stabil. 

           Kejadian itu membuatnya harus terbaring di Rumah sakit untuk dilakukan perawatan medis dan karna ia mempunyai penyakit bawaan yakni kanker otak tentu akan menyumbat nyawanya untuk tetap hidup. Kanker otak stadium 4 yang sudah menggeruguti hidupnya ditambah pukulan batu berulang kali dariku, tahapan stadium 4 dimana sel-sel kanker aktif membelah dan menyebar cepat, sel-sel kanker juga menginfiltrasi jaringan otak sehat di sekitarnya, bahkan sampai menyebar ke otak lain. Penyakit kanker otak stadium 4 dengan nama lain “Glioblastoma” adalah jenis kanker otak yang paling sering ditemukan yaitu 52% dari angka kejadian tumor otak. Arwahnya tidak tenang mungkin saja akan membalas kepadaku,  Ia kini telah bersamaku dan berhasil mengunci seluruh aktifitas fisik selama aku berusaha untuk bergerak. Setelahnya, aku terasa berada di kematian bersamanya setelah dirinya berhasil menyeretku di sudut ruangan beberapa kali, badanku terasa terlempar begitu saja.

             
          Detik jam makin bertambah seirama detak jantung. bau amis langsung menyeruap ruangan hingga menusuk hidung. otakku mulai bekerja berpikir apa yang terjadi, menebak asal dengan naluri yang terbatas. Aroma darah kental tercium sangat khas , lalu siapa pemiliknya?Saat ini Kepalaku benar-benar pusing, terlihat banyak orang mengelilingi tempat tidurku namun mataku masih saja tertutup rapat dan tak bergerak sedikitpun saat itu.